Kamis, 02 Maret 2017

Memakai Sepatu Orang Lain

Seringkali kita terpaku menatap sepatu orang lain. Sepatu yang lebih bagus, bersih dan terlihat wangi.
Padahal ketika kita iseng mencoba "memakai sepatu orang lain" kita akan merasakan apa yang dirasakan orang itu. Apakah itu sempit, bau atau tidak sesuai dengan pakaian kita.

Filosofi "memakai sepatu orang lain" sama dengan melihat kehidupan orang lain dari kacamata kita. Dari sisi kita kehidupan orang lain seringkali lebih nyaman, lebih indah dan tanpa masalah. Tidak seperti kehidupan kita, mungkin..

Tahukah kita mungkin si pemilik "sepatu" hanya pandai menyemir dan membersihkan sepatu nya setiap pagi. Dengan selalu mengucap syukur dan menghadapi masalahnya dengan senyum.

Sesekali lihatnya kebawah, lihatlah "sepatu-mu" mungkin ia hanya perlu di cuci dan di jemur dipantai.
Dan "sepatu" yang bau hanya si pemilik yang perlu mencium baunya kan? 

Takengon 2 Maret 2016


Rabu, 12 Oktober 2016

Hatiku Belum Punya Anti Gores

Kemarin baca postingan yang di share teman tentang hati "anti gores", bagaimana seorang kakek penjual pisang yang tidak merasa sakit hati atau kecewa meski saudara dan sanak familinya tidak mau kenal dengannya karena kehidupannya yang terbilang susah. Kakek ini salah satu contoh manusia yang memiliki hati "anti gores". How cool is that?
Buat saya iya, keren. Sebab saya ini termasuk tipe orang yang gampang banget tergores hatinya. Segala ucapan ama perbuatan orang gampang sekali saya masukin ke hati. Memang sih gampang kalo cuma bilang "udah ga usah di masukin ke hati,lah dia emg orgnya gitu ngomong suka asal" nah buat saya meski uda di wanti-wanti gitu tetep aja itu omongan yang saya denger bisa saya pikirin sampe tiga hari tiga malam. Memang mungkin saya tipe yang sedikit melankolis yang dikit2 sedih, dikit2 marah meski jarang hampir ga pernah ledakan kemarahan saya bisa sampai terdengar atau terlihat oleh orang lain,mendam itulah saya. sebab tipe kayak saya ini diem,trus kalo uda ga ada orang baru nangis d pojokan.
Padahal ga bagus banget kan, ngapain juga pake sedih sama apa yang dikatain ama dilakuin orang lain. Cuma ini hati memang susah move on kalo soal perasaan. Jadi dikit2 bawaan baper.

Tau kan, salah satu sebab hati gampang tergores itu juga karena meski sedikit apalagi banyak, kita sebagai manusia sering berharap kepada manusia lain. Berharap diperhatiin, berharap di sayang, berharap di kasi duit eh .. yang kadang2 tanpa kita sadari kita berharap dianggap lebih dari sekadar teman, yaelah kemana ini arahnya.

Berharap ini kadang2 memang tanpa kita sadari, jadi pada saat orang lain melakukan sesuatu yang ternyata berbeda dengan yang kita harapkan nah lngsung deh itu hati langsung kress kegores, itu yang dinamakan rasa kecewa. Padahal kalo dr awal ga mikir n ga berharap kan ga akan muncul goresan itu.

Nih Ali Bin Abi Thalib pernah bilang "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada ma manusia"

Iyakan, tanpa kita sadari kita ini bergantung kepada orang lain dari segi emosional. Baik sama orang tua, pasangan serta teman dan sahabat. Dan sedikit demi sedikit tumbuh pengharapan kita pada orang2 tersebut.
Sulit memang tapi seharusnya satu2 nya tempat mengharap adalah sama yang di atas, yaitu Allah SWT. Di coba ya..

Ini lagi, kata Imam Syafi'i. Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada Nya.

Yuk mari, instropeksi diri merubah arah pengharapan ke atas bukan kesamping soalnya ga ada yang suka tumbuh kesamping karena itu artinya kamu perlu diet, weleh.
Pengingat diri, yang sering kecewa karena lupa satu2 nya tempat pengharapan adalah Dia.
Hatiku masi belum punya "anti gores"
(Takengon 13 Oct 2016)

Senin, 11 Juli 2016

Dirimu adalah Kau Apa Adanya

Terkadang,
Ingin kembali ke masa, ketika kau di sukai dan di cintai karena apa adanya dirimu.
Dimana tidak ada yang memperdulikan berapa harga sepatu yang kau kenakan, merk tas yang kau bawa dan mobil apa yang kau punya.
Dimana kau tersenyum karena hatimu juga begitu.
Dimana kau berbicara karena kau memang mau bukan karena sesuatu yang palsu yang di sebut basa basi.
Dimana tidak ada orang membicarakan orang lain kepadamu dibelakangnya, karena kau tau terkadang dibelakangmu pun kau dibicarakan.
Semua palsu dan semua memakai topeng.
Semua terlihat baik dan begitu manis
Hampir semua orang begitu ingin kau diamkan tapi kau akan dianggap sombong dan tidak sopan.
Padahal sederhana, kau hanya ingin menjadi dirimu.
Dirimu yang apa adanya
Dirimu yang sederhana
Pernahkan itu kau rasakan?
Salahkah?

Rabu, 27 Januari 2016

Mimpi di pelupuk mata

Disaat mata terpejam,
Mimpi hadir....
Disaat mata terbuka kadang hidup seperti mimpi, bagai mimpi di pelupuk mata..
Nyata namun semu...

Sabtu, 03 Oktober 2015

Ibu pekerja vs ibu rumah tangga

Baru saja kemarin, membaca status seorang teman. Yang intinya proud to be wanita karir dengan segudang mimpi. Karena seorang perempuan harus punya mimpi besar.
Lagi - lagi status dan peryataan - pernyataan yang kita buat tanpa kita sadari mungkin menyinggung orang lain. Menyinggung si ibu rumah tangga yang memilih tidak berkerja. Dan tidak jarang si ibu rumah tangga melakukan hal yang sama, menyinggung ibu perkerja yang memilih berkerja daripada mengasuh anaknya dirumah. Siapa yang salah disini?
Hidup adalah pilihan, dalam hidup kita dihadapi dengan begitu banyak pilihan. Adakah yang salah dengan pilihan - pilihan itu? Jawabanya tidak.
Setiap pilihan memiliki latar belakang dan konsekuensi ketika pilihan-pilihan itu selesai di buat. Sebagai seorang manusia, sudah sewajarnya. Memberikan berbagai alasan dan pembelaan serta pembenaran terhadap pilihan yang telah kita buat. Karena sudah sewajarnya seorang manusia merasa benar terhadap pilihannya. Meski di mata manusia lain pilihan itu mungkin kurang tepat. Ya,karena setiap manusia memiliki opini yang berbeda.
Tentu saja seorang wanita pekerja akan selalu memberikan pembenaran terhadap pilihannya menjadi seorang wanita perkerja. Demikian pula sebaliknya bagi si wanita rumah tangga. Namun bukankah pembenaran - pembenaran itu hanya akan terlihat benar di masing - masing pihak. Dan bukan tidak mungkin status - status dan peryataan pembenaran itu hanya akan menyakiti pihak yang lain?
Alangkah bijaksana nya bila tidak ada lagi pembenaran - pembenaran di antara keduanya, karna kedua pilihan tidak ada yang salah.
Berkerja atau pun tidak, semua ibu punya mimpi, semua ibu punya harapan. Semua ibu punya angan - angan. Mustahil kah mimpi - mimpi itu, bukankah mimpi memang harus seperti itu?
Dan semua ibu ingin menjadi ibu yang baik. Semua ingin memberikan yang terbaik untuk anak - anak mereka. Semua ibu adalah wanita hebat, wanita super yang bisa dan sangup melakukan apapun untuk anak - anak mereka.
Tanpa perlu peryataan - peryataan atau status - status apapun semua orang sudah paham akan hal itu.

Lhokseumawe,Ujong blang 4 Oct 2015
Di Pantai yang berkabut
Semoga asap- asap ini segera berlalu...

Kamis, 17 September 2015

Ibu, Kini Aku Tau

Kini aku tau,
Tugas seorang ibu bukan sekedar mencuci, tapi memastikan setiap kerah dan kaos kaki bersih, sepatu tidak berbau. Serta setiap baju celana tersusun rapi di lemari setelah di setrika.

Kini aku tau,
Tugas seorang ibu bukan sekedar memasak, tapi juga memastikan seluruh anak - anaknya makan dan tidur dengan perut kenyang.

Kini aku tau,
Tugas seorang ibu bukan sekedar membersihkan tempat tidur, tetapi memastikan tidak ada nyamuk didalam kamar, sprei dan selimut yang nyaman sehingga anak - anak dapat tidur dengan nyenyak.

Ya, Seorang manusia yang disebut ibu.
Yang tidak akan makan sebelum anak - anaknya kenyang.
Yang tidak akan tidur sebelum anak - anaknya terlelap.
Yang pertama terbangun ketika anak - anak terbangun karna haus dan mimpi buruk.
Yang pertama terbangun ketika azan subuh berkumandang
Yang selalu ada disana menanti kabar dari mu anak - anaknya.
Yang selalu memasukkan namamu anak - anaknya dalam doanya.
Yang mencintai tanpa pamrih, yang melindungi tanpa rasa takut.

Love you mom 
Untuk semua ibu didunia

Selasa, 01 September 2015

Aku Dan Pasir Di Pantai

Aku adalah aku
Yang seumpama sebutir pasir di bentangan pantai yang luas.
Yang seumpama tetesan air di samudra yang tak terukur pandangan mata.
Yang memilih bersembunyi di sudut gelap, meringkuk dangan nyaman dan aman.
Yang tidak suka keramaian dan jadi pusat perhatian.
Yang mencintai dengan tulus
Yang memilih tidak berharap pada siapapun
Yang lebih memilih menyalahkan diri sendiri.
Yang lebih memilih memperbaiki diri serta tidak bermimpi orang lain dapat berubah.
Ya, aku hanya seorang naif yang tetap percaya pada dasarnya semua orang itu baik.
Semua orang itu sama dengan kebutuhan lahiriah dan batiniah yang sama.
Yang memiliki mimpi indah hidup bahagia
Namun terbatasi dan berubah oleh kompeksitas dan tuntutan duniawi.
Aku adalah kamu,kalian dan mereka.
Aku adalah kita, semua yang disebut manusia.

Takegon 1 Sept 2015