Rabu, 12 Oktober 2016

Hatiku Belum Punya Anti Gores

Kemarin baca postingan yang di share teman tentang hati "anti gores", bagaimana seorang kakek penjual pisang yang tidak merasa sakit hati atau kecewa meski saudara dan sanak familinya tidak mau kenal dengannya karena kehidupannya yang terbilang susah. Kakek ini salah satu contoh manusia yang memiliki hati "anti gores". How cool is that?
Buat saya iya, keren. Sebab saya ini termasuk tipe orang yang gampang banget tergores hatinya. Segala ucapan ama perbuatan orang gampang sekali saya masukin ke hati. Memang sih gampang kalo cuma bilang "udah ga usah di masukin ke hati,lah dia emg orgnya gitu ngomong suka asal" nah buat saya meski uda di wanti-wanti gitu tetep aja itu omongan yang saya denger bisa saya pikirin sampe tiga hari tiga malam. Memang mungkin saya tipe yang sedikit melankolis yang dikit2 sedih, dikit2 marah meski jarang hampir ga pernah ledakan kemarahan saya bisa sampai terdengar atau terlihat oleh orang lain,mendam itulah saya. sebab tipe kayak saya ini diem,trus kalo uda ga ada orang baru nangis d pojokan.
Padahal ga bagus banget kan, ngapain juga pake sedih sama apa yang dikatain ama dilakuin orang lain. Cuma ini hati memang susah move on kalo soal perasaan. Jadi dikit2 bawaan baper.

Tau kan, salah satu sebab hati gampang tergores itu juga karena meski sedikit apalagi banyak, kita sebagai manusia sering berharap kepada manusia lain. Berharap diperhatiin, berharap di sayang, berharap di kasi duit eh .. yang kadang2 tanpa kita sadari kita berharap dianggap lebih dari sekadar teman, yaelah kemana ini arahnya.

Berharap ini kadang2 memang tanpa kita sadari, jadi pada saat orang lain melakukan sesuatu yang ternyata berbeda dengan yang kita harapkan nah lngsung deh itu hati langsung kress kegores, itu yang dinamakan rasa kecewa. Padahal kalo dr awal ga mikir n ga berharap kan ga akan muncul goresan itu.

Nih Ali Bin Abi Thalib pernah bilang "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada ma manusia"

Iyakan, tanpa kita sadari kita ini bergantung kepada orang lain dari segi emosional. Baik sama orang tua, pasangan serta teman dan sahabat. Dan sedikit demi sedikit tumbuh pengharapan kita pada orang2 tersebut.
Sulit memang tapi seharusnya satu2 nya tempat mengharap adalah sama yang di atas, yaitu Allah SWT. Di coba ya..

Ini lagi, kata Imam Syafi'i. Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada Nya.

Yuk mari, instropeksi diri merubah arah pengharapan ke atas bukan kesamping soalnya ga ada yang suka tumbuh kesamping karena itu artinya kamu perlu diet, weleh.
Pengingat diri, yang sering kecewa karena lupa satu2 nya tempat pengharapan adalah Dia.
Hatiku masi belum punya "anti gores"
(Takengon 13 Oct 2016)