Minggu, 19 Juli 2015

Protesku Dalam Diamku

Jika saja aku punya keberanian itu,
Sungguh aku ingin ungkapkan, kalau aku kecewa.
Kecewa dengan keluargamu dan kamu.
Aku tidak meminta segalanya untukku. Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi milikku.
Kecewa,ketika yg aku inginkan hanya sebuah ruangan 4x5 yang benar2 menjadi milikku,dgn barang2 ku didalamnya, dan hanya aku,kita menempatinya.
Kecewa ketika aku harus tidur di kamar entah siapa dan ttp merasa seperti menumpang dan merasa tidak enak,seolah2 kehadiranku membuat org lain tidak nyaman di rumahku sendiri. Aku kecewa sayang. Jangan heran aku tetap lebih memilih berada d rumah lain yang mmg bukan rumahku,tapi setidaknya kehadiranku disana tidak membuat org lain merasa tidak nyaman dimanapun aku tidur.

Sayangnya,aku tidak punya keberanian  itu, keberanian untuk protes, aku hanya bisa diam dan menelan apa yang harus aku telan. Dengan terus berdoa semoga ini tidak lama...
Karena aku hanya manusia biasa..
Bahkan langit yang terlihat tak berbatas juga miliki batas di garis horizon..
Dan hatiku tidak sebesar langit...

Lhoknga 19 July 2015...

Suamiku, bukannya aku mengeluh

Wahai suamiku, bukannya aku mau mengeluh..
Mengerjakan pekerjaan rumah tangga setiap hari itu sedikit membosankan.
Membersihkan rumah yang kembali berantakan hanya dalam waktu 15 menit. Mencuci piring kotor tiga kali sehari. Dan mengerjakan hal lain yang kembali berulang keesokan harinya.

Wahai suamiku, bukannya aku mau mengeluh..
Betapa mungkin kau tidak tahu kepulangan mu setiap sore telah menjadi hal yang aku nanti tiap hari.
Meski tidak jarang kau mengirim pesan akan pulang terlambat yang berarti aku dan anak-anak akan makan malam bertiga saja. Kau tahu, tidak jarang aku merasa sedikit kecewa karena itu.

Wahai suamiku, bukannya aku mau mengeluh..
Betapa terkadang aku ingin kembali seperti wanita - wanita di luar sana yang berdandan rapi setiap pagi untuk berkerja.
Meski mempersiapkan kebutuhan kau dan anak - anak kita setiap pagi, aku tidak merasa keberatan. Aku ikhlas karena cinta.

Wahai suamiku, bukannya aku mau mengeluh..
Menjadi seorang istri dan seorang ibu tidaklah mudah, meski sering kau ingatkan aku untuk jangan sering mengeluh, karena peluh seorang istri apalagi seorang ibu akan berbalas Jannah di akhirat nanti.
Kau tau, bagiku segala kepenatan dan penantian di dunia akan terasa mudah selama kau tetap pulang dengan senyuman setiap sore. Dan berangkat dengan kecupan di keningku setiap pagi.
Jika memang ada Jannah untukku di akhirat nanti semoga dapat ku bagi bersama mu.

Teruntuk Suamiku.. M.Iqbal Husein